Kegiatan Outing Class Kunjungan ke Museum Bank Indonesia

shares |

Kegiatan Outing Class Kunjungan 
ke Museum Bank Indonesia Jakarta



Hallo guyyss :-) Selamat membaca ENJOYYY....

Pada tanggal 01 Mei 2018 Kami melakukan Outing Class ke Bank Indonesia untuk  mata kuliah Korespondensi bersama Ibu Rita Wahyuni. Museum yang memiliki bangunan bergaya neo klasik ini berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara no 3, Jakarta Barat. Museum ini bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri dan bersebrangan dengan Stasiun Kota dan Shelter Transjakarta Halte Kota, tidaklah sulit untuk menemukan museum yang satu ini.


Museum Bank Indonesia merupakan objek wisata bersejarah yang terdapat di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara, tepatnya di bagian depan stasiun Beos Kota atau di samping Museum Bank Mandiri. Tempat wisata ini terbilang cukup unik dan tentunya memberikan berbagai macam pengetahuan mengenai sejarah dari Bank Indonesia.
Awal mulanya bangunan objek wisata Museum Bank Indonesia adalah sebuah rumah sakit umum yang bernama Binnen Hospitaal, hingga pada sekitar tahun 1828, bangunan tersebut di ubah fungsinya menjadi tempat penyimpanan uang atau Bank dengan nama De Javashe Bank. Selama satu abad berlangsung, tepatnya pada tahun 1953 setelah 9 tahun kemerdekaan republic Indonesia, bangunan DJB di tetapkan sebagai Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Bank Indonesia.
Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia kemudian memindahkan Bank Indonesia tersebut ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga tempat BI yang dahulu mejadi kosong tanpa di gunakan untuk keperluaan yang penting. Akhirnya pada tahun 2006 Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah meresmikan bangunan kosong tersebut sebagai Museum Bank Indonesia yang dapat di akses secara mudah oleh masyarakat umum.
Jika anda perhatikan bangunan Museum Bank Indonesia akan terlihat sangat unik, tradisional, dan kokoh berdiri dengan tegaknya. Area parkir yang tersedia di tempat ini pun cukup luas sekali, sehingga mempermudah bagi para pengunjung untuk memarkirkan
Museum Bank Indonesia menempati bangunan yang berusia tua dan memiliki sejarah panjang dalam dunia perbankan di Indonesia. Museum ini dulunya merupakan sebuah rumah sakit Binnen Hospitaal, lalu kemudian digunakan oleh De Javasche Bank (DJB) pada tahun 1828. Pada tahun 1953, bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia. Penggunaan gedung ini sebagai kantor Bank Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tahun 1962, Bank Indonesia pindah ke gedung yang baru. Sejak saat itu, gedung tersebut praktis kosong dan tidak digunakan lagi, padahal gedung tersebut merupakan gedung yang mempunyai nilai sejarah tinggi yang terancam kerusakan apabila tidak dimanfaatkan dan dilestarikan.

Dari nilai historis yang tersirat pada gedung ini, pemerintah akhirnya menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Di samping itu, BI juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah untuk dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.
Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta. Bahkan, BI diharapkan menjadi pelopor dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota.
2.2 Latar Belakang Gedung Museum Bank Indonesia
Gedung Bank Sentral di pusat kota yang telah dibangun dan ditempati oleh DJB (De Javasche Bank) dan kemudian digunakan oleh Bank Sentral untuk beberapa periode waktu, sekarang hampir kosong dan tidak lagi digunakan. Namun, ia memiliki nilai sejarah yang sangat berharga tetapi rentan terhadap kerusakan apabila tidak dimanfaatkan dan dilestarikan. Pemerintah telah menunjuk bangunan ini sebagai situs budaya untuk dilestarikan. Selain itu, Bank Sentral juga memiliki artefak sejarah dan dokumen yang harus diurus dan dipilih untuk memberikan informasi yang benar-benar berguna bagi masyarakat luas.
Terinspirasi oleh keinginan tulus untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang peran Bank Sentral dalam sejarah nasional, serta obyektif menginformasikan latar belakang dan dampak kebijakan Bank Sentral yang dibuat dari waktu ke waktu, Dewan Gubernur Bank Indonesia telah memutuskan untuk mendirikan Museum Bank Indonesia dengan memanfaatkan dan melestarikan bekas gedung Bank Sentral di pusat kota. Upaya ini akan sejalan dengan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta dalam mengubah pusat kota ke dalam pengembangan pusat kota lama Jakarta. Dalam hal ini, Bank Sentral diharapkan untuk melayani sebagai pelopor dalam melestarikan atau revitalisasi bangunan bersejarah di pusat kota.
Alasan ini antara lain, telah memicu ide untuk mendirikan Museum Bank Indonesia yang diharapkan dapat berfungsi sebagai lembaga untuk mengumpulkan, menyimpan, merawat, aman dan memanfaatkan berbagai artefak dan benda-benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang dari Bank Indonesia. Saat ini, ada sejumlah museum lain yang terkait dengan sejarah Bank Sentral, namun museum ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Selain itu, gagasan untuk mendirikan Museum Bank Indonesia juga telah terinspirasi oleh museum bank sentral di negara lain, yaitu sebagai lembaga yang terintegrasi dengan keberadaan bank sentral tersebut.

Museum Bank Indonesia terdiri dari dua lantai yang dapat dijelajahi oleh pengunjung. Lantai pertama terdiri dari pintu masuk utama, pintu masuk belakang, ruang pengeluaran, dan pengedaran uang perpustakaan serta kafe museum. Sementara itu, lantai kedua terdiri dari lobi, ruang penitipan barang, ruang pelayanan pengunjung, ruang lokakarya teater, ruang pengantar sejarah, pra BI serta ruang pameran tetap, serta ruang emas.
Saat pertama masuk, saya langsung menuju lantai dua karena tempat pemeran tetap koleksi yang ada di museum ini ada di lantai dua. Sebelum masuk saya pun terlebih dahulu menitipkan tas dan jaket saya di tempat penitipan barang. Lalu setelah itu, saya pergi ke ruang pelayanan pengunjung dimana saat disana saya diberikan semacam tiket masuk untuk melihat-lihat pameran.

Lalu, saat pertama masuk saya melihat 12 ruang transaksi bank zaman dahulu. Dan disebelahnya terdapat monumen peresmian museum.



Ada berbagai macam peninggalan, fasilitas dan informasi sejarah yang dapat ditemukan di Museum Bank Indonesia, seperti mata uang baru, kursi koin, pintu baja, koleksi uang dari berbagai dunia dan tahun, informasi sejarah, bank tempo doeloe, karya – karya yang seru dan lucu, ruang teater dan taman luas di tengah – tengah bangunan.






Lalu setelah melihat semua koleksi di museum Bank Indonesia, ada satu gambar yang menurut saya sangat menarik, yaitu gambar atau foto dimana logo dari Bank Indonesia sempat berubah-ubah dari waktu ke waktu, sampai logo dari Bank Indonesia yang dipakai sekarang.


Setelah itu saya pergi ke ruangan dimana tempat kerja dan juga rapat presiden Bank Indonesia. Furniturnya terlihat bagus, rapi, dan juga kokoh. Ruangan tersebut sangat nyaman dan tertata rapi, namun sayangnya kita hanya bisa masuk dipinggir ruangan kerja presiden BI tersebut


Kemudian yang terakhir saya pergi ke ruangan yang menurut saya sangat menarik. Yaitu tempat penyimpanan emas. Disana, tedapat  banyak emas batangan yang disimpan di dalam sebuah lemari kaca besar. Ruangan disana pun, dijaga suhunya agar selalu dingin.



Saran:
Publikasi dari Museum Bank Indonesia harus dilakukan lebih gencar lagi agar semakin diketahui oleh khalayak banyak dan tentunya agar museum Bank Indonesia tidak sepi pengunjung.


Indah Islamiati
AP201



Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar