Observassi tukang parkir di jalan Margonda

shares |





Keberadaan “Tukang Parkir” dalam kehidupan manusia di  Indonesia merupakan hal yang sudah diterima oleh umum. Hampir di semua tempat kegiatan publik, keberadaan tukang parkir yang resmi atau yang non-resmi telah menjadi bagian tak terpisahkan. Barangkali antar ruang publik yang satu dengan yang lain, yang berbeda pada tukang parkirnya hanyalah seragam atau pakaiannya saja. Tukang parkir jalanan mungkin pakaian, seragam dan sepatu/sendalnya sederhana saja. Sebaliknya, tukang parkir yang ada di gedung-gedung mewah, berseragam mentereng dan bersepatu mengkilap.
Satu hal yang sama diantara tukang-tukang parkir di berbagai tempat tersebut adalah peluit (‘sempritan’) yang selalu mereka bawa. Dengan peluitnya, sang tukang parkir dapat memerintah pengendara mobil (‘driver’) untuk mematuhi perintah-perintahnya. Jika si tukang parkir meminta pengendara untuk mundur maka akan dimundurkan mobilnya; jika disuruh berhenti maka akan berhenti pula si pengendara.
Tidak peduli apakah sang sopir orang kebanyakan atau si pejabat tinggi; orang miskin atau si milyarder – jika dia mengendarai mobil dan memasuki area parkir yang dikuasai si tukang parkir, maka dia akan patuh padanya. Di sisi lain, si tukang parkir tidak merasa besar kepala karena mempunyai kewenangan yang dipatuhi siapapun yang masuk ke area parkir yang dikuasainya.
Hal itu karena baik sang pengendara dan si tukang parkir sama-sama menyadari sedang menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Si pengendara mobil, siapapun dia, akan patuh pada si tukang parkir karena dia tahu si tukang parkir sedang menjalankan fungsinya membantu memarkirkan mobil. Si tukang parkir pun juga tidak menjadi sombong, mengingat kepatuhan si pengendara mobil, siapapun dia, hanyalah terjadi karena dia sedang menjalankan tugas dan fungsinya.
Bertepatan dengan diberikannya tugas observasi pada salah satu mata kuliah, saya dan kelompok belajar mendapat tugas mengobservasi, dan kami berkesempatan untuk dapat observasi tentang tukang parir yang ada di jalan Margonda, Depok. Dari sekian banyak tukang parkir yang ada, kami hanya mengobservassi 5 tukang parkir, dikarenakan kalau semua tukang parkir yang ada di jalan Margonda harus kami observasi waktunya tidak memungkinkan karena tugas ini harus segera dipresentassikan.


Dari hasil observasi ini, kami mendapatkan berbagai alasan mengapa mereka memilih berprofesi sebagai tukang parkir. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain karena mereka tidak mempunyai bakat dan pendidikan mereka hanya samapi di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Mereka harus meghidupi dan membiayai keperluan anak-anak nya, dan dengan menjadi tukang parkir ini keperluan hidupnya terpenuhi meskipun massih banyak kekurangan. 
Dengan adanya observasi ini, saya menjadi tahu betapa susahnya mereka berjuang mendapatkan uang untuk hidup, dan banyak sekali pelajaran yang saya dan teman-teman saya dapatkan untuk lebih menghargai apa yang kita miliki saat ini, karena apa yang kita tidak sukai dalam hidup yang kita miliki, bisa jadi orang lain menginginkan hidup seperti yangkita miliki sekarang ini. Pesan dari apa yang saya dapat adalah kita tidak boleh memandang rendah apalagi sampai berlaku yang tidak semestinya kepada tukang parkir yang ada di jalan-jalan, kita tidak boleh memandang seseorang hanya karena profesinya sebagai tukang parkir lalu kita tidak menghormatinya dan berlaku semena-mena, hargailah dan jangan lupa untuk memberi sedikit rezeki kepada tukang parkir yang telah menjaga kendaraan kita sehingga aman saat terparkir.




Penulis : Indah Safitri - AP 202

sumber : https://pmblab.wordpress.com/2013/06/18/tukang-parkir-ada-banyak-filosofi-kehidupan-di-balik-tugas-dan-fungsinya/

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar