Kegiatan Penelitian Pada Tukang Sapu Jalanan

shares |

 
Tukang sapu jalanan adalah seseorang yang memiliki pekerjaan sebagai penyapu pinggir jalan. Biasanya mereka menyapu daun-daun kering dan sampah-sampah yang berserakan di pinggiran jalan.

Kami mendapatkan laporan dari narasumber dengan 3 orang narasumber yang berbeda, dan inilah hasil observasi yang kami lakukan :

Narasumber I
Ibu Nyai adalah seorang ibu yang berusia 40 tahun, Ibu Nyai tinggal di Bojong dan ia sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak tetapi 1 anak Ibu Nyai sudah meninggal. Mulai dari tahun 2003 sampai sekarang (2015) ia sudah menjadi tukang sapu.  Ibu Nyai bekerja dari hari senin-jum’at dan setiap sabtu minggu libur, dan Jam kerja mulai menyapu dari jam 7 pagi sampai 5 sore. Banyak sekali suka duka menyapu di area kampus UI tepatnya di lapangan blumat. Suka nya ia merasa senang karena alumni UI masih perduli dengan para tukang sapu terutama ibu-ibu. Karena alumni UI mengadakan pengajian bersama setiap hari sabtu di masjid UI. Dukanya ada mahasiswa yang pengertian dan ada juga yang tidak. Tetapi menurut Ibu Nyai mahasiwa UI rata-rata baik. Dan penghasilan Ibu Nyai menyapu di area lapangan blumat UI yaitu Rp 90.000/Hari. Menurut nya “lumayan lah dek sama gaji segini bisa buat sekolahin anak sampai SMA soalnya saya gabisa ngandelin gaji suami, karena suami saya yang kerja serabutan”. Saran dari Ibu Nyai untuk kita adalah “Sampah-sampah buang pada tempatnya, pengertian deh sama tukang sapu”.

 
Narasumber II
Ibu Aas adalah seorang ibu yang berusia 45 tahun, ia sudah bekerja menjadi tukang sapu sejak tahun 2001 dan sekarang sudah 14 tahun bekerja menjadi tukang sapu. Ibu Aas memliki 3 orang anak 2 orang anaknya sudah menikah dan 1 orang lagi belum menikah masih sekolah. Alasan Ibu Aas menjadi tukang sapu karena butuh, ingin membantu kebutuhan ekonomi keluarganya. Dan Ibu Aas pun sudah biasa menyapu jalanan tiap hari, lalu duka yang dialami menurut Ibu Aas “kalau hujan ya kehujanan kalau panas ya kepanasan” terus kalau pun hujan mereka tetap menyapu dan tidak di ijinkan berteduh oleh mandor nya. Ibu Aas biasanya menyapu diarea Fakultas Kesehatan Masyarakat kampus UI. Sama seperti Ibu Nyai Ibu Aas menyapu dari hari senin-jum’at dan sabtu minggu libur, bekerja dari jam 7 pagi sampai 5 sore. Penghasilannya pun sama yaitu Rp 90.000/Hari. Saran dari Ibu Aas yaitu “ buang sampah ditempat nya deh ya walaupun biasanya sampah yang saya sapu Cuma daun-daun kering, biasanya suka ada yang buang tisu sembarangan. Soalnya nyapu tisu itu susah dibanding nyapu yang lain”.

Dari observasi ini dapat disimpulkan mereka bisa mengerjakan pekerjaan ini dengan ikhlas tulus hanya untuk sesuap nasi, kadang mereka bekerja dibawah terik matahari dan terkadang mereka bekerja dengan diguyur hujan dan harus berhujan-hujanan.

Lalu sekarang, kita yang harus sadar bahwa kehadiran mereka itu sangatlah berarti. Kalau tidak ada mereka mungkin area Depok dan sekitarnya sudah penuh dengan sampah dari mulai daun-daun kering, sampah tisu, sampah kertas, plastik dan masih banyak lagi. Dan sebagai pembaca kita do’akan semoga para ibu-ibu berhati mulia ini selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT. Aamiin.....




Nama Dosen   :    Dra. Rita Wahyuni
Kegiatan         :    Observasi Tukang Sapu di daerah Universitas Indonesia
Mata Kuliah    :    Modern Office Administration


Penulis : Nadya Aprianti Putri P.S. - AP 202

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar